Kebijakan Moneter dan Aliran Pemikiran Ekonomi


Pengaruh kebijakan moneter terhadap output dan harga merupakan perdebatan yang panjang baik berkaitan segi teoritis maupun empiris. Hal itu tidak terlepas dari perkembangan aliran pemikiran ekonomi dari mulai clasical, neo-clasical, neo-clasical synthesis, new clasical dan new keynesian.

Dalam pandangan Klasik bahwa uang hanya berpengaruh terhadap harga dan tidak terhadap output. Dengan mengunakan analisa general ekulibrium yang memasukan uang ke dalam model menghasilkan money neutrality yang menunjukan uang tidak berpengaruh terhadap keseimbangan pasar.

Di sisi lain, pandangan Keynesian bahwa uang berpengaruh terhadap harga dan output karena adanya rigiditas harga dan penganguran tak sukarela (involuntary unemployment). Pandangan tersebut dimodelkan dengan IS-LM untuk keseimbangan pasar uang dan pasar barang (aggregate demand) serta dan adanya disekuilibrium pasar tenaga kerja pada sektor perusahaan (aggregate supply).

Pada tahun 1960-an terjadi konsensus pandangan bahwa uang dapat mempengaruhi output dan harga dalam jangka pendek yang disebut sebagai Neoclasical Synthesis. Pada kurun waktu tersebut struktur labor market digantikan dengan Phillip curve untuk mengekspresikan aggregate supply.

Dalam model Neoclassical Synthesis menjelaskan terjadinya rigiditas harga dan upah karena adanya asumsi perilaku perusahaan dalam menentukan harga yaitu secara mark-up dari upah. Oleh karena itu, walaupun real wage adalah flexible, namun karena pricing behaviour dilakukan secara mark-up maka terjadi rigiditas harga dan upah sehingga money supply berpengaruh terhadap real output dan harga.

Nilai ekpektasi agen ekonomi untuk menyikapi ketidakpastian yang akan datang sangat mempengaruhi dalam makroekonomi. Dua hipotesis ekpektasi yang penting dalam ekonomi adalah adaptive expectation dan rational expectation. Milton Freidman (1957) memperkenalkan adaptive expectation yaitu bahwa ekpektasi agen ekonomi dibentuk oleh observasi inflasi saat ini. Fenomena Phillip curve ditantang oleh Friedman yang mengemukakan argumen bahwa hanya unanticipated inflation saja yang berpengaruh terhadap unemployment. Ekonom ini menekankan pentingnya ekpektasi pada aggregate supply sehingga memperbaiki Philip curve menjadi expectation-augmented Phillip curve.

Pada tahun 70-an merupakan periode yang sulit bagi Keynesian. Lucas (1976) dan Sargent-Wallace(1975) memperkenalkan rational expectation yang mengasumsikan agen ekonomi mengunakan semua informasi yang relevan untuk membentuk ekpektasi atau memperkirakan variabel ekononmi yang akan datang. Oleh karena kebijakan moneter dan kebijakan fiskal mempengaruhi inflasi, maka ekpektasi inflasi juga bergantung pada efek kebijakan tersebut. Oleh sebab itu, perubahan dalam kebijakan moneter dan fiskal akan mempengaruhi perubahan ekpektasi agen ekonomi. Sehingga, evaluasi kebijakan tersebut harus mempertimbangkan efek dari ekpektasi agen ekonomi.

Lucas(1976) mengkritik bahwa hasil estimasi parameter dari model ekonometrik tidak stabil karena jika terjadi perubahan perilaku policy maker maka ekpektasi private agent juga akan berubah sehingga akan mempengaruhi parameter model ekonometrik tersebut. Kritik ini mempengaruhi dua aspek, yaitu merevisi model makroekonomi dengan memasukkan unsur rational expectation serta memperkuat model makroekonomi dengan landasan mikroekonomi.

Pada tahun 80-an pemikiran classical sangat dominan. Dalam paradigma New Clasical, Kydland – Prescott (1982) memperkenalkan real business cycle theory (RBC) yang diawali dengan asumsi mikroekonomi preferensi konsumsi rumah tangga, fungsi produksi perusahaan dan struktur pasar. Dengan optimalisasi intertemporal konsumsi rumah tangga dan perusahaan serta pasar adalah kompetitif maka diperoleh solusi dynamic general equilibrium model. Mereka berhasil membuat replikasi data USA. Model RBC mengsumsikan bahwa output selalu dalam natural level dan semua fluktuasi output adalah pergerakan dari natural level dari output itu sendiri. Penyebab fluktuasi output tersebut menurut Prescott adalah adanya perubahan atau shock dalam teknologi. Demikian pula, dalam model RBC perubahan money supply tidak berdampak pada output.

Setelah dekade 80-an penelitian tentang RBC berkembang dengan berbagai model. Debat tentang technogy shock memberikan inspirasi peneliti untuk mengembangkan berbagai model dengan memasukan berbagai aspek antara lain; oil shock, fiscal shock, monetary model, serta multiple equilibrium model (Rebelo, 2005).

Penelitian terkini tentang model RBC berkaitan dengan kebijakan moneter yaitu dengan memasukkan unsur nominal rigidity wage and price pada model, sehingga perubahan dalam money supply dapat mempengaruhi output. Model ini dikenal sebagai model Dynamic Stocastics General Equlibrium (DSGE). Beberapa peneliti Christiano, Eichenbaum and Evans (2003), Woodford (2003), Smets and Wouters (2004) and Laxton and Pesenti (2003) membangun dan mengestimasi model DSGE yang berbasis RBC dengan nominal rigidities pada upah dan harga termasuk asumsi imperfect competition pada pasar labor market dan product market.

Arus utama lainnya adalah New Keynesian merupakan perbaikan dari Neo-clasical synthesis dengan memasukan aspek rational expectation serta memperkuat landasan mikroekonomi. Namun demikian, ekonom Keynesian masih tetap mempercayai adanya imperfect market dan nominal rigidity dapat mengakibatkan fluktuasi (deviasi) output dari natural output. Fischer (1977) dan Taylor (1980) berpendapat bahwa terjadinya nominal rigity disebabkan adanya staggering of wage and price dicisions oleh perusahaan-perusahaan. Adanya Staggering dalam upah dan harga tersebut mengakibatkan penyesuaian price level secara perlahan-lahan sehingga perubahan dalam aggregate demand berdampak pada fluktuasi output.

Dalam sintesa New Keynesian, para ekonom [Gali dan Gertler (1999) dan Gali et al. (2001); Roberts (2001); Fuhrer (1997); Linde (2005)] telah mempelajari bagaimana membangun model yang sederhana, saling terkait, dan struktural yang dapat menjelaskan mekanisme transmisi moneter khususnya transmisi melalui interest rate dan pengaruhnya terhadap inflasi dan output. Model tersebut dikenal sebagai model New Keynesian Small Macroeconomics (NKSM) dengan pendekatan dynamic stochastic general equlibrium yang mengandung aspek ekpektasi dan juga solid dengan landasan mikroekonomi. Model sederhana tersebut mengandung aggregate demand, price-setting (Phillips) curve, dan fungsi reaksi dari suatu kebijakan suku bunga terhadap output dan inflasi. Model ini mewujudkan prinsip dasar dari peran bijakan moneter melalui instrumen suku bunga nominal untuk stabilisasi inflasi.

Secara teknis model DSGE mempunyai kelemahan dalam hal teknik calibrasi yang sulit untuk menciptakan replikasi data yang sesuai dengan data aktual, namun keunggulannya bahwa parameter model DSGE merupakan “deep parameter” (parameter untuk variabel yang lebih mikro). Sedangkan NKSM mempunyai keunggulan dapat menjelaskan kondisi perekonomian yang lebih sederhana, namun kelemahannya adalah sulit untuk mendapatkan hubungan antar variabel yang signifikan karena adanya unobserved variabel atau korelasi serial.
[Artikel dalam Bahasa Inggris]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s