Perkembangan Ekonomi Eropa


Pertumbuhan ekonomi Eropa juga masih terbatas dan dibayangi terkait referendum keanggotaan UK dalam EU pada tanggal 23 Juni 2016 (isu Brexit). Sektor industri tumbuh moderat namun dalan tren melambat (Grafik 3). Pertumbuhan ekspor juga masih dalam tren menurun, meski dalam perkembangan terakhir mengalami rebound. Selain itu, isu Brexit juga menjadi sumber ketidakpastian baru yang dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan global dan memperburuk perekonomian Inggris dan Kawasan Euro. Brexit dapat berdampak negatif bagi keyakinan investor dan konsumen terhadap Eropa yang saat ini turun.

g3_eropa

Refleksi ……

Krisis ekonomi Eropa muncul karena persoalan hutang merebak sejak 2010. Krisis ekonomi kawasan Eurozone yang dipicu oleh besarnya utang pemerintah sebenarnya mulai mengakar sejak tahun 2000, dimana rasio utang pemerintah negara-negara di kawasan Eropa meningkat signifikan. Rasio utang Yunani yang pada tahun 2000 hanya sebesar 77% dari PDB nya, pada 2012 mencapai 170%, nilai ini diprediksi IMF akan tumbuh menjadi diatas 180% pada tahun 2013. Meningkatnya utang negara karena defisit anggaran yang terus berlanjut. Kondisi ini jelas bertentangan dengan aturan Maastricht Treaty, dimana dinyatakan dalam aturan ini bahwa utang negara tidak boleh lebih dari 60% dari PDB dan defisit maksimal 3% dari PDB. Teorinya, jika melewati angka itu, akan menciptakan ketidakstabilan ekonomi kawasan.

Parahnya lagi, negara-negara lain di kawasan Eropa seperti Irlandia, Portugal, Italia, Spanyol, bahkan Perancis juga mengalami kondisi yang hampir sama. Rasio hutang Irlandia terhadap PDB saat ini mencapai 103%, padahal di tahun 2000 hanya sebesar 36%. Begitu pula dengan Portugal dimana rasio hutang pemerintahnya mencapai 113% di tahun 2012, dan di prediksi oleh IMF akan mencapai 119% di tahun 2013. Besarnya utang negara di kawasan Eurozone membuat Yunani, Portugal dan Irlandia kesulitan membayar utangnya. Sehingga menimbulkan krisis ekonomi Eropa.

Para pemimpin Eurozone telah mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan kawasan tersebut dari krisis utang. Salah satu keputusan penting yang diambil adalah dibentuknya European Stability Mechanism (ESM) pada 27 September 2012 dengan tujuan bailout  negara anggota Eurozone yang menghadapi kesulitan keuangan, dibantu oleh Troika (International Monetary Funds, European Central Bank dan European Comission). Demikian juga negara-negara Eurozone   menyepakati penambahan dana  siaga untuk bailout, dari 500 miliar euro menjadi 800 miliar euro atau sekitar USD 1 triliun. Dana siaga ini tidak saja untuk membantu negara pengguna euro yang tengah berjuang keras keluar dari krisis keuangan, seperti Yunani, Irlandia  dan  Portugal, namun juga mengantisipasi Negara lainnya yang memerlukan bailout dari ESM.
Langkah-langkah penyelamatan kawasan Eropa lainnya adalah hair cut pembayaran obligasi Yunani kepada pihak swasta. Kalangan perbankan dan asuransi sepakat mengurangi piutang mereka ke Yunani sebesar 50%. Bagi Yunani, pengurangan utang obligasi dari pihak swasta itu sangat berarti, tidak saja bagi penyelamatan negara mereka dari krisis utang namun juga berguna bagi kawasan Eropa. Kebijakan penyelamatan ekonomi Eropa lainnya adalah kesepakatan  para pemimpin Uni Eropa mengenai rekapitalisasi perbankan secara langsung. Dimana bailout perbankan disuatu negara bisa dilakukan secara langsung dengan menggunakan dana bailout Eropa yang ada. Untuk itu kawasan Euro juga sepakat untuk menyatukan pengawasan perbankannya. Dengan demikian penyelamatan pada bank-bank bermasalah di Eurozone tidak akan menambah utang pemerintah, sehingga tidak menambah beban utang negara. Selain itu bailout dana untuk Yunani sebesar USD 56 milyar akhirnya disetujui oleh IMF dan menteri keuangan Eurozone setelah melalui perdebatan yang panjang. Para pemimpin UE berharap bahwa langkah-langkah ini akan melindungi Yunani dengan demikian juga Eropa dari krisis ekonomi yang berlarut-larut.

Meskipun berbagai kebijakan sudah diambil namun besarnya utang negara kawasan Eropa serta lambannya langkah-langkah reformasi ekonominya membuat pemulihan ekonominya berjalan lamban. Bahkan memburuknya kondisi ekonomi kawasan Eropa membuat lembaga pemeringkat menurunkan peringkat utang negara-negara kawasan Eropa. Jerman pun yang paling kuat di Eropa oleh Moody’s diturunkan peringkatnya menjadi AAA  negative outlook, serta baru-baru ini S&P memberi peringkat surat utang  Yunani ke Selective Default. Hal itu menunjukkan bahwa krisis ekonomi Eropa masih belum mereda.

Berbagai perkembangan yang terjadi di Eropa hingga saat ini belum dapat memberikan keyakinan bahwa krisis ekonomi Eropa akan segera dapat diatasi. Meskipun sudah banyak langkah yang diambil untuk menyelamatkan Eropa namun masa depan ekonomi Eropa masih belum jelas. Apalagi reformasi ekonomi yang harus dijalankan berjalan lamban. Referendum yang diselenggarakan pada tanggal 23 Juni adalah untuk memutuskan Inggris keluar Uni Eropa. Yang memilih keluar atau yang disebut Brexit mencapai 52% sementara yang tetap 48%. Dalam peristiwa tersebut, poundsterling jatuh sekitar 10 persen pada Jumat (24/6), mencapai tingkat terendah 31 tahun, tetapi tidak bergerak di bawah 1,32 dolar AS. Ini semua menunjukkan bahwa masih terdapat banyak masalah yang perlu diselesaikan oleh Eropa.

 

Sumber: Bank Indonesia, Fak Ekonomi UGM

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s