New Keynesian Economic (Bag 4)


Efficiency Wages

Bagian penting lainnya dari ekonomi New Keynesian telah mengembangankan teori baru tentang pengangguran. Pengangguran yang persisten adalah suatu teka-teki untuk teori ekonomi. Biasanya, ekonom beranggapan bahwa kelebihan pasokan tenaga kerja akan menekan upah. Penurunan upah pada gilirannya akan mengurangi pengangguran dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang diminta. Oleh karena itu, sesuai dengan standar teori ekonomi, pengangguran itu sendiri akan menyelesaikan persoalan dengan sendirinya.

Eonom New Keynesian sering mengarah pada teori dari apa yang mereka sebut efisiensi upah untuk menjelaskan mengapa  mekanisme market-clearing ini gagal. Teori ini berpegang pada upah yamh tinggi membuat pekerja lebih produktif. Pengaruh upah pada efisiensi pekerja dapat dijelaskan pada kegagalan perusahaan untuk memotong upah meskipun terjadi kelebihan pasokan tenaga kerja. Walaupun penurunan upah akan mengurangi tagihan perusahaan, hal itu juga akan menyebabkan produktifitas pekerja dan dan keuntungan perusahaan akan turun.

Ada berbagai teori tentang bagaimana upah mempengaruhi produktivitas pekerja. Efisiensi upah. Teori pertama efesiensi-upah berpendapat bahwa tingginya upah buruh akan mengurangi turnover pekerja. Pekerja keluar dari perusahaan dengan berbagai alasan yaitu: untuk menerima posisi yang lebih baik di perusahaan lain, untuk mengubah karir, atau untuk berpindah ke negara lain. Semakin banyak perusahaan membayar para pekerja, semakin besar insentif mereka untuk tinggal dengan perusahaan. Dengan membayar upah yang tinggi, perusahaan akan mengurangi frekuensi pekerja yang keluar dari perusahaan, sehingga akan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk perekrutan dan  pelatihan pekerja baru.

Teori kedua efisiensi-upah berpendapat bahwa rata-rata kualitas tenaga kerja dari sebuah perusahaan tergantung pada itu upah yang dibayarkan para karyawannya. Jika perusahaan mengurangi upah, karyawan terbaik mungkin akan mengambil pekerjaan di tempat lain, dan perusahaan dtinggal dengan karyawan kurang produktif yang memiliki alternatif kesempatan lebih sedikit. Dengan membayar upah di atas tingkat keseimbangan, maka perusahaan ini menghindari adverse selection, meningkatkan kualitas rata-rata dari tenaga kerja, dan dengan demikian meningkatkan produktivitas.

Teori ketiga efisiensi-upah berpendapat bahwa upah yang tinggi akan meningkatkan effort pekerja. Teori ini memposisikan bahwa perusahaan tidak dapat memantau dengan sempurna work effort karyawannya dan bahwa karyawan yang harus memutuskan cara sendiri untuk bekerja keras. Pekerja dapat memilih untuk bekerja keras, atau mereka dapat memilih untuk mangkir dan risiko tertangkap dan mendapatkan PHK. Perusahaan dapat meningkatkan work effort karyawan dengan membayar upah yang tinggi. Semakin tinggi upah, semakin besar adalah biaya pekerja untuk PHK. Dengan membayar upah lebih tinggi, perusahaan menekan beberapa karyawannya untuk tidak mangkir, dan dengan demikian akan meningkatkan produktivitas mereka.

A New Sintesis

Selama tahun 1990-an, perdebatan antara para ekonom New Classical dan New Keynesian menyebabkan munculnya sintesis baru antara macroeconomists tentang cara terbaik untuk memberikan penjelasan fluktuasi ekonomi jangka pendek dan peran kebijakan fiskal dan moneter. Sintesis baru ini mencoba untuk menggabungkan kekuatan dari pendekatan keduanya. Dari model new classical ini akan membawa berbagai pemodelan yang mencurahkan pada bagaimana rumah tangga dan perusahaan membuat keputusan dari waktu ke waktu. Dari model New Keynesian yang diperlukan adalah price rigidity dan menggunakannya untuk menjelaskan mengapa kebijakan moneter akan mempengaruhi kebekerjaan dan produksi dalam jangka pendek. Pendekatan yang paling umum adalah dengan mengasumsikan monopolistically competitive firms (perusahaan yang memiliki kekuatan pasar tapi bersaing dengan perusahaan lain) yang mengubah harga hanya intermittently.

Inti dari the new synthesis adalah pandangan bahwa perekonomian merupakan sistem dinamis keseimbangan umum (dynamic general equilibrium system) yang mempunyai deviasi dengan alokasi yang efisien sumber daya dalam jangka pendek karena adanya sticky price dan mungkin berbagai market imperfections lainnya. Dalam banyak hal, sintesis baru membentuk intelektual dasar untuk analisis kebijakan moneter pada Federal Reserve dan bank sentral di seluruh dunia.

Implikasi kebijakan
Karena ekonomi New Keynesian adalah school of thought mengenai teori ekonomi makro, para penganutnya tidak harus mempunyai satu pandangan tentang kebijakan ekonomi. Pada tingkat yang lebih luas, ekonomi New Keynesian menyarankan –berbeda dengan classical theories- resesi adalah keberangkatan dari normal efisien fungsi dari pasar. Unsur yang New Keynesian economic -seperti menu cost,  staggered price, coordination failures, and efficiency wages- mencerminkan penyimpangan yang substansial dari asumsi ekonomi klasik, yang menyediakan dasar intelektualitas para ekonom ”yang biasa dengan justifikasi dari laissez-faire”. Dalam teori New Keynesian recessions disebabkan oleh perekonomian kegagalan pasar yang lebar. Dengan demikian, ekonomi New Keynesian menyediakan alasan bagi intervensi pemerintah dalam perekonomian, seperti countercyclical moneter atau kebijakan fiskal. Bagian ini dari ekonomi New Keynesian telah dimasukkan ke dalam sintesis baru yang muncul di antara macroeconomists. Apakah policymaker harus intervensi dalam prakteknya, bagaimanapun, hal ini merupakan sebuah pertanyaan yang lebih sulit yang mana dipengaruhi berbagai politik dan juga keputusan ekonomi.

Iklan

New Keynesian Economics (Bagian 3)


Kegagalan Koordinasi

Beberapa ekonom New Keynesian menyarankan bahwa resesi ekonomi merupakan dampak dari kegagalan koordinasi. Masalah koordinasi dapat muncul dalam pengaturan upah dan harga karena mereka dalam menetapkan upah dan harga harus mengantisipasi tindakan pemain lainnya dalam penetapan upah dan harga. Dalam bernegosiasi tentang upah Pemimpin serikat pekerja memperhatikan tentang konsesi-konsesi serikat pekerja lainnya akan menang. Perusahaan dalam menetapkan harga sangat memperhatikan  harga yang ditetapkan oleh perusahaan lainnya.

Untuk melihat bagaimana resesi dapat timbul dengan adanya kegagalan koordinasi, berikut ini sebagai perumpamaan. Misalkan perekonomiaan terdiri dari dua perusahaan. Setelah adanya penurunan tajam dalam money supply, setiap perusahaan harus memutuskan apakah melakukan pemotongan harga. Setiap perusahaan berkeinginan untuk memaksimalkan profit, namun profit tersebut tidak hanya tergantung pada keputusan harga tetapi juga pada keputusan yang dibuat oleh perusahaan lainnya.

Jika tidak sebuah perusahahaan pun yang melakukan pemotongan harga, jumlah real money (jumlah uang dibagi dengan tingkat harga) adalah rendah, terjadi resesi, dan setiap perusahaan membuat keuntungan hanya limabelas dolar.

Jika kedua perusahaan memotong harganya, real money balance cukup tinggi, resesi bias dihindari, dan setiap perusahaan memperoleh  keuntungan sebesar tiga puluh dolar. Meskipun kedua perusahaan lebih memilih untuk menghindari resesi, tidak ada yang dapat diperbuat dengan tindakan sendiri-sendiri. Jika salah satu perusahaan melakukan pemotongan harga sedangkan yang lainnya tidak, dan resesi akan mengikutinya. Perusahaan yang melakukan pemotongan harga hanya mendapatkan lima dolar, sementara yang perusahaan lain mendapatkan limabelas dolar.

Esensi dari perumpamaan ini adalah bahwa setiap keputusan perusahaan mempengaruhi hasil untuk perusahaan lainnya. Ketika satu perusahaan melakukan pemotongan harga, maka hal itu akan meningkatkan kesempatan bagi perusahaan yang lain, karena perusahaan lain dapat menghindari resesi oleh pemotongan harga tersebut. Ini dampak positif dari salah satu perusahaan yang melakukan pemotongan harga pada perusahaan lain dengan meningkatnya kesempatan memperoleh keuntungan karena adanya ekternalitas aggregate-demand.

Hasil apa yang diharapkan dalam suatu perekonomian ini? Di satu sisi, jika setiap perusahaan mengharapkan perusahaan lain untuk memotong harganya, keduanya akan memotong harga, sehingga hasil sesuai dengan yang diinginkan di mana masing-masing mendapatkan tiga puluh dolar. Di sisi lain, jika setiap perusahaan mengharapkan perusahaan lain yang lain untuk mempertahamkan harga, keduanya akan mempertahankan harga, merupakan solusi yang inferior yang mana masing-masing mendapatkan lima belas dolar. Oleh karena itu, kedua hasil tersebut dapat terjadi: adanya multiple equilibria.

Hasil yang inferior, di mana setiap perusahaan yang mendapatkan lima belas dolar, adalah contoh dari kegagalan koordinasi. Jika kedua perusahaan dapat melakukan koordinasi, mereka masing-masing akan memotong harganya dan mencapai hasil yang diinginkan. Dalam dunia nyata, tidak seperti dalam perumpamaan ini, koordinasi seringkali sulit karena jumlah perusahaan yang banyak. Moral dari suatu cerita adalah bahwa meskipun sticky price bukan merupakan minat perusahaan, namun harga secara sederhana dapat sticky karena karena price setters berharap mereka akan melakukannya.

Kebijakan Moneter dan Aliran Pemikiran Ekonomi


Pengaruh kebijakan moneter terhadap output dan harga merupakan perdebatan yang panjang baik berkaitan segi teoritis maupun empiris. Hal itu tidak terlepas dari perkembangan aliran pemikiran ekonomi dari mulai clasical, neo-clasical, neo-clasical synthesis, new clasical dan new keynesian.

Dalam pandangan Klasik bahwa uang hanya berpengaruh terhadap harga dan tidak terhadap output. Dengan mengunakan analisa general ekulibrium yang memasukan uang ke dalam model menghasilkan money neutrality yang menunjukan uang tidak berpengaruh terhadap keseimbangan pasar.

Di sisi lain, pandangan Keynesian bahwa uang berpengaruh terhadap harga dan output karena adanya rigiditas harga dan penganguran tak sukarela (involuntary unemployment). Pandangan tersebut dimodelkan dengan IS-LM untuk keseimbangan pasar uang dan pasar barang (aggregate demand) serta dan adanya disekuilibrium pasar tenaga kerja pada sektor perusahaan (aggregate supply).

Baca lebih lanjut

New Keynesian Macroeconomics Model for Indonesia


Pada akhir-akhir ini para akademisi banyak mengkaji model New Keynesian Small Mecroeconomic merupakan model makroekonomi yang dikembangkan pada pertengahan tahun 90-an sebagai respon dari Lucas Criteque atas model makroekonmi Keynesian (IS-LM) pada waktu awal tahun 80-an. Perbaikan yang dilakukan atas model keynesian yaitu dengan membangun model berdasarkan basis mikroekonomi (optimasi house hold dan firm) serta memasukan aspek rational ekpectation.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: